Selasa, 03/02/2009 12:25 WIB CetakKirim

Pemimpin Libya Muamar Gadaffi terpilih sebagai ketua Uni Afrika dalam pertemuan tingkat tinggi UA di Ethiopia, Senin (2/2), menggantikan pemimpin sebelumnya Jakaya Kikwete yang juga menjabat sebagai Presiden Tanzania.

Namun pemilihan Gaddafi tidak memuaskan seluruh anggota Uni Afrika yang berjumlah 53 negara. Blok negara Afrika Barat tidak begitu senang dengan terpilihnya Gaddafi dan berusaha melakukan lobi agar yang terpilih sebagai pimpinan Uni Afrika yang baru berasal dari wilayah itu.

Lobi itu tidak membuahkan hasil karena menurut aturan Uni Afrika, posisi ketua digilir antara wilayah-wilayah negara Afrika dan tahun ini gilirannya jatuh ke wilayah Afrika Utara yang hanya diwakili oleh Gaddafi, pemimpin Libya

Pemilihan ketua Uni Afrika dilakukan secara tertutup lewat voting. Meski tidak didukung penuh oleh seluruh negara anggota Uni Afrika,  Gaddafi menegaskan akan  mewujudkan apa yang disebutnya sebagai : ” United States of Africa “.

Gaddafi selama ini memang giat menyerukan agar negara-negara Uni Afrika menggalang persatuan yang lebih kuat. Gaddafi juga dikenal sebagai tokoh ‘murah hati’  yang tidak segan-segan menyalurkan bantuan dana ke sejumlah negara Uni Afrika.

“Saya harap, masa kepemimpinan saya akan menjadi masa untuk bekerja serius dan bukan cuma bicara. Saya akan menegaskan lagi bahwa tugas kita adalah mewujudkan: ” United States of Africa,”  kata Gaddafi dalam pidato pelantikannya sebagai ketua Uni Afrika.

Gaddafi berpendapat, penyatuan negara-negara Afrika yang diperjuangkannya selama beberapa tahun terakhir bersama Presiden Senegal Abdoulaye Wade, adalah satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan global, mengentaskan kemiskinan dan memecahkan konflik yang terjadi diantara negara Afrika tanpa campur tangan Barat.

Ia mengakui bahwa belum semua pemimpin negara Uni Afrika sepakat dengan wacana itu dan banyak negara-negara di Afrika yang masih memilih menjadi negara independen dan jalan sendiri-sendiri.

Dalam konferensi persnya minggu malam, Kikwete mengatakan bahwa mayoritas negara anggota Uni Afrika menolak usulan penyatuan pemerintahan dan hanya setuju untuk mengganti Komisi Uni Afrika menjadi “Otoritas” Uni Afrika.

Sebagai pimpinan baru Uni Afrika, Gaddafi yang oleh sejumlah pemimpin Afrika dijuluki: King of Kings Afrika ini menghadapi tantangan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang melanda sejumlah negara Afrika. Antara lain, pertikain politik di Madagaskar yang sampai hari sudah menelan korban jiwa 65 orang, termasuk ancaman tuntutan kejahatan perang terhadap Presiden Sudan, Omar Bashir.

Mampukah Gaddafi menyelesaikan semua persoalan yang sarat dengan campur tangan negara asing itu dan menyatukan negara-negara Afrika dibawah payung: United States of Africa ? Waktu yang akan menjawabnya, sejauh mana Gaddafi bisa memainkan pengaruhnya di benua hitam itu. (ln/aby)

Iklan